Kadet Biasa-biasa Saja yang Pimpin Kudeta Militer di Myanmar

Kadet Biasa-biasa Saja yang Pimpin Kudeta Militer di Myanmar
Senin, 01 Februari 2021

Naypyidaw, Myanmar. Mirip dengan gerakan 30 November 1965 di Jakarta, Indonesia, demikian juga di ibukota Myanmar, Naypyidaw, angkatan darat (AD) Myanmar dan kesatuan lain ambil kekuasaan dengan paksa, Minggu (31/1/2021) malam.

Militer dan polisi Myannmar mengepung dan menutup seluruh jalanan ibukota Myanmar, Naypyiedaw, Senin (1/2/2021). Ist.
Senin (1/2/2021) pagi, militer umumkan ke rakyat Myanmar, telah menyelamatkan pemerintahan dari kaum kapitalis dukungan kaum imperalis. Selama setahun ke depan, puncak kekuasaan diserahkan ke Panglima AD Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing.

Jenderal senior ini otak dari pembataian penganut agama Islam dan etnis Rohingya di Myanmar. Siaran televisi Negara Myanmar mengumumkan, pihak militer ambil kekuasaan sementara berdalih pemerintahan yang ada hidup bergaya borjuis di atas kemiskinan rakyat.

Militer Myanmar mengungumkan, Pemimpin Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi ditahan dibukota. Presiden Myanmar, Win Myint juga ditahan secara militer di ibukota. Myanmar punya jabatan tertinggi, Pemimpin Negara. Kemudian di bawahnya untuk menjalankan roda pemerintahan, disebut Presiden Myanmar.

Akhir 2017, Time sudah wawancara dengan Jenderal Min Aung Hlaing karena mengaku sebagai otak pembersihan etnis Rohingya dan Muslim di Myanmar. Tiga tahun lalu, dunia dibuat kaget karena Jenderal Min Aung Hlaing ketika menjadi kadet taruna militer, hanya punya prestasi biasa-biasa saja.

“Angkatan bersenjata Myanmar menangkapi para pemimpin sipil, buntut keluhan rakyat adanya dugaan pelanggaran dalam pemilihan umum November 2020 lalu,” demikian siaran militer.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Rex Tillerson sudah pernah menelepon langsung Jenderal Min Aung Hlaing, 26 Oktober 2017.

“Amerika meminta agar menghentikan kekerasan ke etnis Rohingya dan penganut Muslim, Buddha, dan Kristen di Mnyanmar. Jangan dijadikan pembersihan etnis dengan pembunuhan massal itu sebagai solusi terakhir bagi etnis Burma,” kata Rex Tillerson, jenderal AS berusia 64 tahun, kala itu.

Jenderal Min Aung Hlaing menginginkan warga negara Myanmar hanya untuk etnis Burma, selain itu harus punya passport sebagai bukti warga negara lain yang datang ke Myanmar. Ist.
Tahun 2009, Jenderal Min Aung Hlaing memerangi pemberontak di perbatasan dengan Tiongkok, membunuh etnis minoritas karena budayanya mirip Tiongkok. Operasi perbatsan Myanmar-Tiongkok memberangus pemimpin etnis minoritas, Peng Jiasheng.

Insiden Kokang adalah pertempuran rakyat sipil melawan militer selama satu minggu saja. Dampaknya luar biasa. Gencatan senjata selama 20 tahun dilanggar. Rakyat sipil 30 orang terpaksa mengungsi ke Tiongkok. Pemerintah Tiongkok, berikan tempat tinggal pada 30 ribu pengungsi Myanmar.

Tahun 2017, Jenderal Min Aung Hlaing meminta ummat Buddha dan para biksu di Myanmar untuk membunuh dan membersihkan penganut Islam dan etnis Rohingnya yang lebih dekat Bangladesh. Setelah mendapat tekanan dari Negara-negara Muslim di dunia, pembersihan etnis dihentikan. (int/nur)

Open Comment
Close Comment

Belum ada Komentar untuk "Kadet Biasa-biasa Saja yang Pimpin Kudeta Militer di Myanmar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel