Kenangan Seram Petugas SS NAZI Wanita Kamp Ravensbrück

Kenangan Seram Petugas SS NAZI Wanita Kamp Ravensbrück
Senin, 25 Januari 2021

Berlin, Jerman. Januari, 1944, suratkhabar Jerman memasang iklan lowongan pekerjaan. "Dicari pekerja perempuan yang sehat, berusia 20 hingga 40 tahun untuk situs militer."

Ilustrasi skuadron pengawal wanita SS NAZI Jerman. Istimewa

Pekerjaan itu menjanjikan gaji layak, tempat tinggal gratis, akomodasi, dan pakaian. Akan tetapi tidak disebutkan, memakai seragam Schutzstaffel (SS) NAZI. Kemudian situs militer yang dimaksud adalah kamp konsentrasi khusus perempuan, Ravensbrück.

 

SS (Skuadron Pelindung) adalah organisasi keamanan dan militer milik Partai NAZI Jerman. Didirikan Adolf Hitler sebagai satuan pengawal pribadi, April 1925.

 

Akan tetapi awalnnya hanya 300 anggota satuan kecil 1925, menjadi 50 ribu pada tahun 1933 saat Hitler memegang kekuasaan Jerman.

 

Ravensbrück, kamp konsentrasi Jerman khusus untuk perempuan pada tahun 1939-1945. Terletak di Jerman utara, 90 km (56 mil) utara kota Berlin, ibukota Republik Jerman.

 

Perkiraan angka tahanan di kamp, 132 ribu wanita. Rinciannya 48,5 ribu tahanan wanita Polandia, 28 ribu dari Uni Soviet , hampir 24 ribu dari Jerman dan Austria, hampir delapan ribu dari Perancis, dan ribuan dari negara lain termasuk.

 

Sisanya ada sekitar 20 ribu wanita Yahudi dari berbagai negara. Lebih dari 80 persen adalah tahanan politik wanita. Banyak tahanan pekerja budak dipekerjakan oleh Siemens & Halske .

 

Percobaan medis

Dalam kurun tahun 1942-1945, eksperimen medis untuk menguji keefektifan sulfonamida dilakukan ke tahanan wanita. Obat sulfonamide, antibakteri efektif pertama yang digunakan secara sistemik. Membuka jalan bagi revolusi antibiotik dalam pengobatan.

 

Pada bakteri, keberadaan antibakteri sulfonamida bertindak sebagai inhibitor kompetitif dari enzim dihydropteroate synthase (DHPS). Sebuah enzim yang terlibat dalam sintesis folat .

 

Sulfonamida bersifat bakteriostatik dan menghambat pertumbuhan dan penggandaan bakteri. Akan tetapi tidak membunuhnya. Manusia berbeda dengan bakteri, memperoleh folat (vitamin B-9) melalui makanan yang dikonsumsi.

 

Sulfonamida digunakan untuk mengobati alergi dan batuk. Kemudian fungsi antijamur dan antimalaria. Bagian ini juga hadir dalam obat lain yang tidak antimikroba. Sulfasalazine, selain sebagai antibiotik, juga digunakan pengobatan penyakit radang usus .

 

Sejarah berdirinya kamp Ravensbrück dimulai musim semi tahun 1941, SS mendirikan kamp kecil yang berdekatan untuk narapidana pria yang membangun dan mengelola kamar gas di tahun 1944. Sekitar 132 ribu tahanan wanita yang ditahan di kamp Ravensbrück, sekitar 50 ribu tewas dan sekitar 2,2 ribu tewas di kamar gas beracun.

 

Jadi kamp peringatan

Kini di awal tahun 2021, barak kayu tipis bagi para tahanan di kamp konsentrasi Ravensbrück sudah lama hilang. Tersisa hanyalah ladang berbatu. Kosong dan menyeramkan.

 

Pun demikian di sana masih berdiri kokoh delapan vila indah dengan jendela kayu dan balkon. Bangunan itu adalah tipikal pondok Jerman abad pertengahan versi Nazi Jerman.

 

Pada zaman dahulu kala, para penjaga perempuan tinggal vila itu. Para petugas penjara juga membawa anak-anaknya tinggal di vila itu. Biasanya aari balkon, mereka dapat melihat hutan dan danau yang indah.

 

“Itu adalah momen terindah dalam hidup saya,” kata seorang penjaga perempuan, beberapa dekade kemudian setelah Perang Dunia II (1939-1945) selesai.

 

Akan tetapi dari kamar tidur para penjaga dan anak-anaknya, juga dapat melihat kerumunan tahanan dan cerobong asap kamar gas beracun. Pengalaman yang menyedihkan.

 

“Banyak pengunjung datang ke museum peringatan Ravensbrück, bertanya tentang perempuan-perempuan ini. Tidak banyak pertanyaan tentang pria yang bekerja di bidang ini,” kata Andrea Genest, direktur museum peringatan di Ravensbrck, sambil menunjukkan di mana para penjaga tinggal.

 

“Orang-orang sulit membayangkan, perempuan bisa sekejam itu kepada perempuan lainnya,” kenang Andrea Genest.

 

Dikatakannya di antara para penjaga ini adalah remaja putri yang berasal dari keluarga miskin. Mereka terpaksa meninggalkan sekolah lebih awal. Imbasnya tak memiliki banyak pilihan karir di zaman perang.

 

Neraka rumah

Beberapa pengunjung museum peringatan Ravensbrück akan disuguhkan pameran foto-foto perempuan di waktu senggang mereka. Sebagian besar berusia 20 tahunan, cantik, manis, seksi dengan gaya rambut modis.

 

Sejumlah foto menampilkan mereka sedang tersenyum saat minum kopi. Ada juga yang tertawa. Berjalan-jalan di hutan terdekat dengan anjing mereka. Upacara penyambutan pejabat NAZI. Dan lain-lain.

 

Adegan-adegan dalam foto itu tampak polos para gadis cantik Jerman. Sampai akhirnya akan melihat lencana SS di seragam yang mereka kenakan, kisah seram perang. Anjing berjenis Alsatian yang ada di foto-foto itu, anjing untuk menyiksa tahanan di kamp konsentrasi.

 

Sekitar 3.500 perempuan bekerja sebagai penjaga kamp konsentrasi NAZI. Karir mereka berawal di Ravensbrück. Kemudian karena kecantikan dan senyum manisnya, banyak yang kemudian bekerja di kamp kematian seperti Auschwitz-Birkenau atau Bergen-Belsen.

 

"Mereka orang-orang yang mengerikan," kata Selma van de Perre, 98 tahun, sekarang tinggal di London, Inggris. Selma van de Perre, Yahudi Belanda, pejuang perlawanan yang ditahan di Ravensbrück sebagai tahanan politik.

 

"Mereka suka bekerja di sana mungkin karena itu membuat mereka merasa kuat. Itu memberi mereka banyak kekuasaan atas para tahanan. Beberapa tahanan diperlakukan dengan sangat buruk. Dipukuli,” kenang Selma van de Perre.

 

Selma berjuang bawah tanah di Belanda yang kala itu diduduki Nazi. Ia dengan berani membantu keluarga Yahudi melarikan diri keluar dari Belanda.

 

September 2020 lalu di London, Selma menerbitkan sebuah buku tentang pengalamannya di Ravensbrück dengan judul, “My Name is Selma.” Buku yang dirilis di Inggris dan negara lain, termasuk Jerman.

 

Orangtua dan adik perempuan Selma meninggal dunia di kamp Ravensbrück. Hampir setiap tahun dia kembali ke Ravensbrück untuk turut serta dalam acara peringatan. Demi menghormati para korban.

 

Banyak di antara mereka adalah perjuang perlawanan dan musuh politik, sedangkan lainya dianggap tak layak bagi NAZI. Seperti wanita kaum Yahudi, lesbian, gay, pekerja seks, gipsi, perempuan tunawisma, hingga wanita perokok.

 

Sebagaimana diketahui NAZI ketika berkuasa menjadi negara paling anti dengan rokok. NAZI menganggap, rokok itu buatan Yahudi untuk menghancurkan kesucian ras Arya.

 

Sampai hari ini, 2021, Jerman menjadi negara yang sedikit memiliki penduduk perokok dibandingkan Perancis. Kampanye anti rokok era NAZI, dilanjutkan era Jerman modern.

 

Bahkan ada ungkapan, “Jika ingin menjadi Perancis, merokoklah. Jika tidak merokok, jadilah Jerman.” sebagaimana terungkap di sinetron Amerika Serikat yang kaget dengan apa yang terjadi di Paris dengan judul, “Emily in Paris.”

 

Banyak tahanan perempuan meninggal di kamar gas dan digantung. Sedangkan lainnya meninggal karena kelaparan, penyakit yang diderita, dan kerja paksa.

 

Mereka diperlakukan secara brutal oleh banyak petugas perempuan. Ada yang dipukuli, disiksa atau dibunuh. Para tahanan menjuluki para petugas dengan sejumlah nama kepada para petugas yang kejam. Seperti "bloody Brygyda" atau "revolver Anna".

 

Usai perang teater Eropa, April 1945, selama persidangan atas kejahatan yang dilakukan NAZI, Irma Gress dijuluki sebagai "beautiful beast" (monster yang cantik) oleh media massa kala itu.

 

Perempuan muda, menarik, dan berambut pirang ini, dinyatakan bersalah atas pembunuhan di kamp Ravensbrück. Kemudian dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung sampai mati.

Penjuang wanita SS NAZI Jerman 1944 dari foto hitam putih yang dijahit berwarna dengan aplikasi khusus. Istimewa

Standar kecantikan Arya

Gambaran klise perempuan berambut pirang yang cantik tapi sadis dan berseragam SS, sampai hari ini menjadi sosok kultus seksual dalam film, komik, hingga karya sastra lainnya.

 

Uniknya, para wanita Jerman di negara mana pun di era kekuasaan NAZI, menjadi program produksi ras unggul Arya. Bahkan ketika wanita itu sudah menikah dan masih masa subur, suaminya diwajibkan untuk membuahinya sampai berhasil.

Wanita Jerman itu harus cantik, semua lekuk tubuhnya harus proporsional dalam standar seksi NAZI. Bola warna biru, hijau,hijau kekuning-kuningan, dan bulu mata lentik. Rambut pirang, mayang, akar kuat, dan lurus.

 

Kemudian mempunyai kesuburan yang berlimpah dan ceria. Para gadis-gadis muda digiring ke banyak pesta dan disegerakan menikah. Kemudian dicarikan lelaki Arya yang tegap, gagah, sesuai standar NAZI.

 

NAZI ingin memurnikan ras Arya, sehingga wanita cantik Jerman di atas umur 17 tahun, harus siap menikah dan dibuahi untuk melahirkan ras Arya.

 

Wanita di Reich Ketiga, sebutan NAZI di era kekuasaannya, memainkan peran sebagai ibu rumahtangga. Diwajibkan bisa memasak, membersihkan, menjaga rumah serta menjaga kesehatan, dan kecantikan. Tujuannya demi suami mereka yang akan menghasilkan anak-anak dengan ras murni.

 

Mulai usia sekolah dasar mereka telah diajarkan mata pelajaran yang sesuai. Misalnya memasak dan menjahit serta hal-hal yang menyangkut kesehatan dan kecantikan. Berikut ini pedoman menjadi wanita ideal menurut NAZI Jerman;

 

Perempuan Jerman tidak boleh bekerja mencari nafkah, mengenakan celana panjang, memakai make-up, mengenakan sepatu hak tinggi, mewarnai ataupun mengeriting rambut, dan tidak boleh melakukan diet.

 

Pada 5 Juli 1933, hukum yang mendorong perkawinan disahkan NAZI Jerman. Salah satu ketentuan di dalam hukum itu, memberikan pinjaman sebesar 1000 mark kepada semua pasangan yang baru menikah.

 

Pada setiap hari lahir ibu Adolf Hitler, 12 Agustus, NAZI Jerman memberikan penghargaan ke wanita yang melahirkan banyak anak. Salib emas diberikan kepada ibu-ibu dari delapan anak atau lebih, perak untuk ibu dari enak anak, dan perunggu untuk ibu dari empat anak.

 

Gadis yang belum menikah, didorong untuk segera memiliki anak-anak. Para gadis dianjurkan mengunjungi Lebensborn, mereka dihamili anggota SS. Pilihan ini membuat para gadis Jerman menyegerakan meniah.

 

Pun demikian, gadis intelektual banyak yang memprotes kebijakan Hitler. Akhirnya bergabung dengan kelompok oposisi sayap kiri. Sebagian berhasil tertangkap SS dan dikirim ke kamp konsentrasi sebagai tahanan politik.

 

Imbasnya, partai NAZI pada Oktober 1933 membuka kamp konsentrasi pertama untuk perempuan dibuka di Moringen, Jerman. Tahun 1938, kamp kedua didirikan di Lichtenburg. Tahun 1939, kamp ketiga dibuka di Ravensbrück.

 

Sementara itu, tahun 1937, saat NAZI Jerman siap mengobarkan perang, perempuan melengkapi tenaga laki-laki. Undang-undang baru disahkan, semua wanita harus melakukan pekerjaan patriotik. Beberapa perempuan terbujuk oleh ilkan-iklan ajakan menjadi relawan SS.

 

Perempuan-perempuan terpilih, sebagian besar berasal dari kelas menengah dan kelas bawah, menjalani pelatihan. Pastinya cantik, sehat, dan seksi. Setelah masa pelatihan, ditempatkan di kamp-kamp konsentrasi sebagai penjaga perempuan.

 

Derita gadis cantik Arya

Uniknya para tentara NAZI dengan ras Arya murni, dilarang membuahi kaum perempuan di luar wanita cantik Arya. Beredarnya obat peningkatan stamina tentara dalam mendukung ketahanan fisik selama perang, akibatnya ada kasus tentara NAZI memperkosa wanita di tanah jajahannya. Diduga sudah tidak tahan lagi.

 

Hampir setiap saat, para dokter pro NAZI juga menyebarkan obat kesuburan ke para wanita subur ras murni Arya. Bahkan kadang kala, sang dokter memberikan dosis cukup tinggi supaya wanita ras Arya harus melayani suaminya tidak di malam hari saja. Dalam suasana perang.

Ada beberapa kasus, setahun setelah melahirkan atau masih menyusui anaknya, para wanita Arya sudah memasuki program pembuahan lagi. Padahal di masa perang, bakan makanan walaupun dijatah oleh militer, tetap saja tidak melimpah. 

Para wanita Jerman ras murni Arya di usia subur, selain untuk produksi anak, juga bertani atau membuat senjata perang di siang harinya. Para petinggi partai NAZI berdalih, demi Jerman Raya.

 

Oleh karenanya, sebagian petugas kamp Ravensbrück membawa anak-anaknya yang masih kecil ikut tinggal di kamp. Namun para anak-anak itu, tidak mengetahui jika itu kamp menyeramkan.

 

Usai perang, para anak-anak yang lahir dari program pemurnian ras Arya, menjadi tulang punggung membangun Jerman lagi yang porak-poranda karena perang. Mereka tidak menyangka, orangtuanya akan sekejam itu sesama perempuan di kamp Ravensbrück.

 

Ribuan perempuan yang bekerja sebagai penjaga SS, hanya 77 yang diadili. Kemudian hanya segelintir dari mereka yang mendapat hukuman.

 

Mereka menggambarkan diri mereka sebagai pembantu yang acuh. Kemudian sifat acuh itu, mudah dilakukan di Jerman Barat pasca perang yang patriarkal.

 

Kebanyakan tidak pernah membicarakan masa lalu di Ravensbrück. Mereka menikah dengan pria yang masih sanggup membuahinya, mengubah nama mereka, dan menghilang namanya dari publik.

 

Mereka tetap tampil cantik dengan segala pengetahuan kencantikan yang tersisa di Eropa, melahirkan anak-anak Jerman yang baru. Jika tidak ada kelahiran, Jerman bisa hilang ditelan bumi. Membuat para usia subur paska perang dunia II, berlomba-lomba membangun Jerman baru di tengah sejarah Eropa yang kelam.

 

Seorang penjaga kamp Ravensbrück, Herta Bothe yang dipenjara karena tindak kekerasan. Kemudian berbicara di depan umum atas kenangannya.

 

Ia mendapat ampunan dari kerajaan Inggris, setelah hanya beberapa tahun mendekam di penjara. Dalam wawancara yang jarang terjadi, direkam tahun 1999 sebelum Herta Bothe meninggal, ia tetap tidak menyesali perbuatannya.

 

"Apakah membuat kesalahan? Tidak. Kesalahannya adalah bahwa itu adalah kamp konsentrasi. Akan tetapi saya harus pergi ke sana. Sebab kalau tidak. saya sendiri akan dimasukkan ke dalamn Ravensbrück. Itu adalah kesalahan saya,” kata Hertha Bothe.

 

Itu adalah alasan yang sering diberikan para mantan penjaga kamp Ravensbrück. Akan tetapi banyak dari anak-anak para penjaga Ravensbrück mengatakan, itu tidak benar.

 

Catatan menunjukkan bahwa beberapa rekrutan baru kamp, meninggalkan Ravensbrück segera setelah mereka menyadari apa tugas dan pekerjaan yang dihadapi. Mereka diizinkan pergi dan tidak mendapatkan dampak negatif apa pun.

 

Bahkan para wanita yang meninggalkan pekerjaan di kamp Ravensbrück itu, tidak kalah muda dan cantik dari penjaga lainnya. Akan tetapi sebagian wanita muda dan cantik itu, harus segera menikah dengan petugas partai NAZI maupun tentara.

 

Supaya lekas dibuahi, hamil, dan melahirkan di suasana perang. Setelah mereka melayani nafsu para suaminya yang ingin banyak anak Jerman lahir, ketika Berlin diduki tentara Uni Soviet juga harus diperkosa para tentara pendudukan itu.

“Lebih baik Rusia di atas perutmu daripada bom Amerika di atas kepalamu,” ungkapan para gadis cantik Arya yang terekam di banyak naskah.

 

Ungkapan itu, disebabkan ribuan bom dijatuhkan Amerika Serikat dan sekutunya di atas kota Berlin dan sekitarnya. Membuat para gadis belia hingga kaum ibu-ibu susah mengambil air di pompa Hydran di pinggir jalan, disebabkan banyaknya bom yang meledak dari pesawat Amerika Serikat.

 

Sedangkan Rusia yang pertama kali menduduki kota Berlin, berperang langsung masuk ke kota tanpa menjatuhkan bom. Imbasnya tembakan bisa diprediksi, tidak seperti bom yang jatuh sesuai arah angin. Sudah begitu, bom yang jatuh banyak juga tidak meledak. Akhinya menjadi ranjau di balik reruntuhan tembok.

 

“Saya masih di tangga rumah, tiba-tiba banyak tentara Rusia memperkosa saya. Bergiliran sehingga saya hidup,” kesaksian gadis Berlin yang tertulis di buku penderitaan gadis Jerman ketika kalah kalah perang.

 

Rusia benci dengan Jerman karena pengkhianatan dan anggapan orang Rusia bukan manusia. Mereka tumpahkan dengan banyak membuahi wanita Jerman di Berlin dan kawasan Jerman timur. Kesedihan para orangtua yang anak gadisnya disetubuhi banyak tentara pendudukan.

Banyak juga anak gadis yang selamat dengan menggendong bayi atau menuntun anak kecil. Para komandan tentara Rusia meminta para tentaranya tidak memangganggu para wanita yang menggendong bayi atau menuntun anak kecil.

 

Sebab jika tidak ada manusia Jerman yang hidup, tidak ada kelas pekerja di Jerman di masa pendudukan Rusia atas Berlin dan Jerman timur.

 

Kekerasan tidak hanya di Ravensbrück

Penulis buku kepedihan selama di kamp Ravensbrück, Selma kembali memberikan kesaksiannya. Ia menganggap para penjaga Ravensbrück ini, mirip monster jahat.

 

"Mereka para perempuan biasa yang menjaga Ravensbrück dan melakukan hal-hal jahat. Saya pikir itu mungkin terjadi di banyak orang, bahkan di Inggris sendiri. Saya pikir itu bisa terjadi di mana saja. Itu bisa terjadi di sini jika diizinkan,” kupas Selma melihat para wanita korban perang antiterorisme saat ini.

 

Namun begitu, ia meyakini bahwa ini adalah pelajaran yang mengerikan untuk masa sekarang.

 

Sejak perang, penjaga SS perempuan telah difiksionalisasikan dalam banyak karya sastra buku hinga film. Paling terkenal adalah film The Reader, diangkat dari novel Jerman yang kemudian menjadi inspirasi film yang dibintangi oleh Kate Winslet.

 

Kadang-kadang perempuan penjaga SS digambarkan sebagai korban yang dieksploitasi tentara pendudukan. Sedangkan di lain waktu, sebagai monster sadis ketika NAZI berjaya.

 

Namun faktanya lebih mengerikan, para wanita bukanlah monster luar biasa. Melainkan perempuan biasa yang akhirnya melakukan hal-hal mengerikan di kamp Ravensbrück. (nur)

Open Comment
Close Comment

Belum ada Komentar untuk "Kenangan Seram Petugas SS NAZI Wanita Kamp Ravensbrück"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel