Bomber Nuklir AS B-52 Terbang Santai di Langit Timur Tengah

Bomber Nuklir AS B-52 Terbang Santai di Langit Timur Tengah
Jumat, 29 Januari 2021

Washington, AS. Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan kekuatannya di Timur Tengah. Pesawat pengebom (bomber) pembawa hulu ledak nuklir B-52, mengudara sebagai alarm untuk Republik Islam Iran, Kamis (28/1/2021) waktu setempat.

Bomber pembawa hulu ledak nuklir berpose dengan senjata-jata lainnya yang mampu dibawa terbang ke target yang ditentukan. Ist.


Dilansir AFP, pesawat pengebom B-52H Stratofortress mengudara dalam misi pergi-pulang (PP) dari Pangkalan Udara Barksdale di Louisiana, AS, Rabu (27/1/2021) waktu setempat.

Bomber itu juga disusul jet-jet tempur dan pesawat pengisi bahan bakar di udara milik AS. Kemudian dikawal jet tempur F-15 milik angkatan udara kerajaan Arab Saudi.

Misi unjuk kuasa di kawasan Timur Tengah, sudah kali ketiga sejak awal 2020 hingga awal 2021.Dua misi di bawah kepemimpinan mantan Presiden AS, Donald Trump. Awal kepemimpinan AS oleh Joe Bidden, juga melayangkan bomber B-52 di Timur Tengah.

punya dua misi sepanjang tahun 2020 juga dijalankan untuk menegaskan ancaman terhadap Iran.

Presiden baru AS, Joe Biden mengisyaratkan kesiapan mencairkan hubungan dengan Iran. Namun misi bomber B-52 AS itu menunjukkan kebijakan strategis AS, tidak berubah.

“Misi pertahanan jarak jauh dan berdurasi pendek menunjukkan kemampuan militer AS. Mampu mengerahkan kekuatan udara di mana saja di dunia. Centcom (markas komando pusat, Red) berkomitmen pada keamanan mitra dan menjaga stabilitas kawasan,” tegas Komando Pusat AS (Centcom) dalam pernyataan resminya.

 

Sementara itu, Iran menyerukan ke Presiden Amerika Serikat (AS) yang baru, Joe Biden untuk mencabut sanksi-sanksi terhadap negaranya karena ulah mantan Presiden AS Donald Trump. Pencabutan sanksi tanpa syarat. Tujuannya demi menyelamatkan kesepakatan nuklir tahun 2015.

 

Tahun 2018, AS secara sepihak menarik kesepakatan nuklir Iran. Kesepakatan tahun 2015 itu, sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) antara Iran dengan AS, Tiongkok, Rusia, Inggris, Perancis dan Jerman.

 

JCPOA beri keringanan sanksi, imbalan atas pembatasan ambisi nuklir Iran. Jaminannya, negara itu tidak akan membuat bom atom nuklir. Iran setuju dan menyatakan hanya mengejar program energi nuklir sipil.

 

Namun setelah AS keluar dari kesepakatan JCPOA, AS menerapkan kembali sanksi keras ke Iran. Sanksi-sanksi itu menargetkan penjualan bahan bakar minyak Iran ke dunia.

 

Tahun 2019, Iran menangguhkan kepatuhannya pada batasan-batasan JCPOA, sebagai respons atas penerapan kembali sanksi-sanksi AS ke bekas negara Persia itu. Beberapa bulan terakhir, Iran mengisyaratkan kesiapan kembali berkomunikasi dengan AS di bawah Joe Biden.

 

"Pemerintahan baru di Washington DC memiliki pilihan fundamental untuk diambil," kata Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran.

 

Ia menyatakan pemerintahan Biden dapat merangkul kebijakan yang gagal dari pemerintahan Donald Trump. Jika Washington bersikeras untuk menarik konsesi maka peluang ini akan hilang perdamaian dengan Iran akan hilang.

 

“Kebijakan Trump dahulu membuat Iran lebih berbahaya dari sebelumnya,” kata Anthony Blinken, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS pilihan Biden di sidang penetapan Senat AS, beberapa hari lalu.

 

Blinken mengonfirmasi keinginan Presiden Joe Biden agar AS kembali dengan kesepakatan nuklir Iran. Semuanya bergantung Iran. (int/nur)

Open Comment
Close Comment

Belum ada Komentar untuk "Bomber Nuklir AS B-52 Terbang Santai di Langit Timur Tengah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel